Atalanta, Tim Penuh Kejutan di Italia dan Eropa

Apr 16

Pekan ini, muncul petisi yang berhasil mencuri perhatian pencinta sepak bola. Petisi yang digagas oleh Franco Cascio di situs Change.org tersebut menuntut kepada penyelenggara kompetisi di Italia agar memberikan scudetto musim 2019–2020 kepada Atalanta Bergamasca Calcio. Hal ini tentu bukan tanpa alasan. Pertama, Cascio menyebut raihan mengagumkan dua musim terakhir La Dea membuat tim tersebut layak menyandang gelar scudetto. Kedua, Cascio berharap gelar tersebut sebagai “penghormatan” terhadap Bergamo, kota asal Atalanta, yang paling terdampak Covid-19 di Italia. 


Atalanta, Tim Penuh Kejutan di Italia dan Eropa gambar 1

DokDOK INSTAGRAM @ATALANTABC

Menarik memang jika mengikuti kiprah mengagumkan Atalanta selama dua musim belakangan di Italia dan khususnya di Liga Champions musim ini. Untuk itu, mari kita bedah capaian dan cerita menarik Atalanta selama beberapa musim terakhir. 


Awal kebangkitan  

Sebenarnya kebangkitan klub Atalanta sudah dimulai dari Serie A musim 2016–2017. Pada musim tersebut, Atalanta secara mengejutkan finis di urutan ke-4. Sementara itu, di ajang Coppa Italia, klub yang bermarkas di Stadion Atleti Azzurri d’Italia mampu mencapai babak 16 besar. 


Berada di posisi ke-4 klasemen akhir, Atalanta berhak mewakili Italia di ajang Liga Eropa pada musim kompetisi 2017–2018. Tampil di beberapa ajang sekaligus membuat penampilan Atalanta menjadi agak limbung. Posisi La Dea di klasemen akhir Serie A musim 2017–2018 melorot ke posisi ke-7. Raihan lebih baik dicapai Atalanta di kompetisi Coppa Italia dan Liga Eropa. Josip Illicic dan kawan-kawan berhasil meraih babak semifinal di Coppa Italia 2017–2018 sebelum disingkirkan Juventus yang menjadi kampiun pada tahun itu. Sementara itu, pada ajang Liga Eropa, Atalanta mampu menjangkau babak 32 besar, sebelum disingkirkan klub kuat asal Jerman, Borussia Dortmund, dengan agregat 3-4. Di fase grup, Atalanta bahkan menempati posisi puncak dengan 14 poin, mengalahkan wakil Perancis, Olympique Lyon; wakil Inggris, Everton FC; dan wakil Siprus, Apollon Limassol. 


Atalanta, Tim Penuh Kejutan di Italia dan Eropa gambar 2

DOK INSTAGRAM @ATALANTABC


Pada musim lalu, 2018–2019, catatan lebih baik ditorehkan Atalanta di kompetisi domestik. Anak asuh Gian Piero Gasperini berhasil menempati urutan ke-3 klasemen akhir Serie A musim 2018–2019. Di ajang Coppa Italia, raihan Atalanta lebih baik jika dibandingkan musim sebelumnya. Atalanta berhasil tampil di partai puncak. Namun, sayangnya Atalanta dikalahkan Lazio 0-2. Di kompetisi Eropa 2018–019, nasib kurang baik menaungi Atalanta. Pasukan La Dea harus tersingkir di babak penyisihan dari wakil Denmark, FC Copenhagen melalui babak adu penalti. Kedua tim harus menjalani babak adu penalti setelah meraih 2 kali hasil 0-0 di dua pertandingan waktu normal.



Musim 2019–2020

Sebelum dihentikan akibat pandemi Covid-19, Atalanta menjadi tim dengan raihan sensasional, khususnya di Serie A dan Liga Champions musim 2019–2020. Hingga pekan ke-26 Serie A, Atalanta menempati urutan keempat dengan 48 poin. Namun, anak asuh Gian Piero Gasperini baru melakoni 25 pertandingan dan menyimpan 1 pertandingan tunda. 


Atalanta, Tim Penuh Kejutan di Italia dan Eropa gambar 3

DOK INSTAGRAM @ATALANTABC


Sensasi Atalanta tidak hanya itu. Atalanta memegang rekor sementara sebagai tim tersubur Serie A dengan 70 gol. Pada musim ini, tercatat setidaknya 6 kali Atalanta menang dengan skor telak. Di antaranya menang atas Sassuolo 4-1 pada 28 September 2019, Udinese 7-1 pada 27 Oktober 2019, AC Milan 5-0 pada 22 Desember 2019, AC Parma 5-0 pada 6 Januari 2020, Torino 7-0 pada 25 Januari 2020, dan pertandingan terakhir Atalanta di Serie A sebelum dihentikan, Lecce 2-7 pada 1 Maret 2020. Hal ini berbanding lurus dengan catatan tembakan yang dilakukan oleh tim Atalanta. Duvan Zapata dan kawan-kawan mencatatkan 376 tembakan, dengan rincian 226 mengenai target dan 150 melenceng dari gawang. 


Di level kompetisi Eropa musim ini, Atalanta meraih prestasi yang tak kalah sensasional. Bermain di Liga Champions Eropa pertamanya, La Dea bergabung dengan wakil Inggris, Manchester City; wakil Ukraina, Shakhtar Donetsk; dan wakil Kroasia, Dinamo Zagreb di grup C. Atalanta berhasil lolos dari penyisihan grup dengan status runner up. Luis Muriel dan kolega unggul tipis dengan 7 poin. Shakhtar Donetsk berada di posisi ketiga dengan 6 poin, sedangkan Dinamo Zagreb menempati posisi juru kunci dengan 5 poin. 


Penampilan ciamik Atalanta terus berlanjut ke babak gugur. Di babak 16 besar, Atalanta menyingkirkan wakil Spanyol, Valencia, dengan agregat 4-8. Di pertemuan pertama yang digelar di kandang pinjaman, Stadion San Siro, Milan, Italia, pada 19 Februari 2020, Atalanta unggul telak atas Los Che dengan skor 4-1. Bek asal Belanda, Hans Hateboer, menjadi bintang dalam pertandingan ini dengan mencetak 2 gol. Selain Hateboer, Ilicic dan gelandang asal Swiss, Reno Freuler, masing-masing menyumbang 1 gol. Empat gol Atalanta hanya mampu ditipiskan oleh gelandang Valencia asal Rusia, Denis Cheryshev. 


Atalanta, Tim Penuh Kejutan di Italia dan Eropa gambar 4

DOK INSTAGRAM @ILICIC72


Pada pertemuan kedua di Stadion Mestalla, Valencia, Spanyol, 10 Maret 2020, pertandingan berjalan lebih seru. Kali ini giliran gelandang andalan Atalanta asal Slovenia, Ilicic, yang tampil fantastis dengan menmborong 4 gol, yaitu 2 kali gol penalti pada menit ke-3 dan ke-43. Dua gol Ilicic lainnya dicetak pada babak kedua, yaitu menit ke-71 dan ke-82. Berkat raihan tersebut, Ilicic berhasil mencatatkan rekor baru di Liga Champions. Ilicic kini menjadi pemain tertua yang mampu mencetak empat gol dalam kompetisi paling bergengsi di Eropa tersebut. Ilicic mencetak quatrick atau 4 gol sekaligus dalam 1 pertandingan ketika berusia 32 tahun dan 41 hari. Rekor sebelumnya dipegang Zlatan Ibrahimovic pada usia 32 tahun dan 20 hari. Kala itu, Ibrahimovic masih memperkuat PSG. Ia mencetak empat gol kala Les Parisiens bertemu Anderlecht pada Oktober 2013 silam. 


Kini, mari berharap pandemi Covid-19 ini segera berlalu di semua belahan bumi. Agar kita bisa kembali menyaksikan kecantikan permainan La Dea.

 

  

 


Post komentar pertama

Post
Tidak ada komentar lagi