Profil Desainer Indonesia: Ghea Panggabean

Mar 12

Siapa yang tidak kenal dengan Ghea Panggabean? Desainer Indonesia yang terkenal dengan karyanya yang selalu dibalut dengan kain-kain tradisional Indonesia. Ghea Sukasah Panggabean atau biasa dipanggil Ghea ini lahir pada tanggal 1 Maret 1955 di Rotterdam, Belanda. Ghea menghabisi masa kecilnya di Jerman dan Belanda.


Orang tua Ghea selalu mengingatkan Ghea bahwa ia berasal dari Indonesia. Karena itu Ghea harus selalu ingat tradisi negeri dan kembali ke akar. Kedua orang tua Ghea adalah pribadi yang sangat menghargai budaya dan seni, sehingga ia banyak menghabiskan masa kecilnya di Belanda dan Jerman dengan berkunjung ke museum dan membaca berbagai buku tentang kekayaan Indonesia.


Sedari kecil Ghea memiliki hobi menggambar dan bakat menggambar tersebut pun digunakan Ghea untuk menjadi desainer.


Pendidikan

Masa kecil Ghea dihabiskan di luar negeri. Ghea mengenyam Sekolah Dasar di Jerman Barat, dan melanjutkan Sekolah Menengah Pertama di Rotterdam, Belanda. Namun, Ghea kembali ke Indonesia dan melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Menengah Atas dan bersekolah di Tarakanita.


Setelah lulus dari Tarakanita, Ghea melanjutkan perkuliahannya di Perguruan Tinggi Trisakti. Ghea mengambil jurusan seni rupa. Tetapi, Ghea hanya setahun belajar di Trisakti. Setelah menimba ilmu di Tanah Air, Ghea kembali mengenyam pendidikan di luar negeri.


Ghea melanjutkan pendidikan perkuliahannya di Lucie Clayton College of Dress making Fashion Design pada tahun 1976 hingga 1978. Setelah lulus dari Lucie Clayton College, Ghea diterima di sebuah institusi pendidikan yang mengajarkan dunia busana atau fashion, Chelsea Academy of Fashion, London pada tahun 1979.


Lulus dari Chelsea Academy of Fashion, Ghea memulai karirnya sebagai desainer muda.


Setiap desainer pasti memiliki ciri khasnya sendiri. Seorang Ghea Panggabean pun juga memiliki ciri khasnya. Ghea selalu menggabungkan semua rancangan busananya dengan kain tradisional. Seperti pesan Ayah Ghea, dimana Ghea harus selalu ingat tradisi negeri sendiri. Pesan tersebut pun menjadi kan kain tradisional sebagai ciri khas rancangan busana Ghea Panggabean.

 

 

Menurut Ghea, karyanya bukan hanya sekadar seni tetapi harus memenuhi unsur seni dan klasik. Dimana mesikpun sudah bertahun-tahun tetapi tetap bisa dinikmati.


Ghea melakukan gebrakan baru di dunia fashion dengan mengeksplorasi kain lurik dan jumputan yang terkenal dengan keeksotisannya itu di tahun 80-an. Kain jumputan merupakan kain tradisional motif ikat-celup. Dengan tangan kreatifnya, kain jumputan ini hadir lebih menarik dan modern. Bahkan karya inovatif itu mendapat apresiasi berupa Aparel Award sebagai Indonesia’s Best Ready to Wear Designers 1987.

Profil Desainer Indonesia: Ghea Panggabean gambar 1

Kain jumputan yang Ghea buat pun tidak hanya tampil dalam fabric asli, namun juga dalam bentuk print. Karena kain jumputan membutuhkan waktu yang lama dalam pembuatannya, sehingga ia membuatnya dalam bentuk print.

 

Profil Desainer Indonesia: Ghea Panggabean gambar 2

Tidak hanya kain jumputan, kain Lurik Jawa dipilih Ghea sebagai lahan kreativitasnya. Ghea menggunakan uang 500 ribu rupiah dari hasil pernikahannya untuk dijadikan modal. Ia mencoba membuat gaya yang lebih progresif dengan menggunakan kain lurik jawa. Dan saat busananya sudah selesai ia buat, busananya pun dijual dan laku dengan harga 18 ribu rupiah.

  

 

Sejak saat itu, ia terus menggali dan mengeksplorasi karya dari kain-kain tradisional dari berbagai tempat di Indonesia. Di antaranya: batik Lasem, Ulos Tapanuli, kain Aceh, motif Sumba, Gringsing Bali, Peranakan, Songket Limar, dan masih banyak lagi.

 

Meski dari kain tradisional, Ghea membuat karyanya tidak terlihat kuno. Ia selalu menemukan inspirasi baru yang ia tuangkan kedalam pembuatan karyanya tersebut. 


Bekerja di dunia fashion memang menyenangkan, tetapi tetap saja tak luput dari keluh kesah. Hal yang membuat Ghea kesal dalam bekerja di dunia kreatif adalah adnaya pembajakan. Karyanya yang ia buat dengan jerih payahnya tersebut ditiru orang lain dan dijual dipasaran dengan harga yang sangat murah.

 

Walaupun Ghea geram, tetapi ia tetap mencoba berpikir positif. Ia berpikir mungkin karyanya memang bagus dan menjadikan orang lain meniru karyanya tersebut, tetapi dalam dunia fashion harusnya saling memberikan inspirasi dan tetap menjaga orisinalitas karya yang dibuat.

 

Ghea sangat mencintai etnik sehingga ia mendapat julukan sebagai ‘Ratu Etnik’. Julukan ini ia dapat karena ia konsisten dalam menggunakan elemen-elemen etnik ke berbagai busana dan aksesoris yang ia buat. Kecintaannya terhadap etnik pun membuat Ghea berharap etnik Indonesia bisa terus maju dan go international. 


Pagelaran Busana 30 Tahun Ghea Panggabean untuk Indonesia

Ghea yang sudah lama berkecimpung di dunia fashion ini membuat pagelaran busana 30 tahun Ghea Panggabean. Ia membuat pagelaran busana ini sekaligus menceritakan perjalanan panjangnya di dunia fashion. Ia bekerjasama dengan Jakarta Fashion Week dalam menggelar pagelaran busananya. Ia memilih tema ‘A Retrospective Journey’. 


Kata Retrospective dipilih karena pada pagelaran ini, Ghea melakukan kilas balik dengan mengenakan motif-motif kain yang pernah ia gunakan pada karya-karyanya yang dulu.

 

Profil Desainer Indonesia: Ghea Panggabean gambar 3

Pagelaran busana Ghea ini dibagi menjadi empat sesi busana, yaitu Bohemian, Gypset Traveler, Spirituality dan Indonesian Heritage.  Ghea tidak hanya menggunakan budaya Indonesia bagian barat seperti Jawa dan Sumatera, kini ia juga mengeksplorasi budaya Indonesia bagian Timur, seperti Nusa Tenggara Timur, Bali, dan Timor.


Profil Desainer Indonesia: Ghea Panggabean gambar 4

Ghea pun pernah membuat rancangan busana muslim. Pada Juli 2011, Ghea ikut andil dalam peragaan busana muslim yang digelar Islamic Fashion Festival (IFF) dengan bertema “Eastern Treasures”, di Hotel Mandarin Oriental Hyde Park, London, Inggris. Meski umat muslim Inggris terbilang kaum minoritas, tak disangka busana muslim rancangan Ghea amat diminati. Yang lebih membanggakan, para peminat itu datang dari wanita kalangan atas, salah satunya Putri Charlotte Casiraghi dari Monako. 


Suatu hal yang membanggakan ya dari Desainer senior Indonesia ini yang go international dengan kain tradisional sebagai ciri khasnya


Post komentar pertama

Post
Tidak ada komentar lagi